Kamis, 27 Agustus 2009

Futsal Mania




Ini foto-foto ayah waktu main futsal sama tim muspida di bawah pimpinan Bupati Banjarnegara. Yang kostum biru adalah tim PWI Pokja Banjarnegara, di bawah pimpinan om Syarif dari Suara Merdeka.

Kamis, 20 Agustus 2009

Sebuah PR Besar Untuk Kita



Di sinilah tempat saya bekerja. Di sebuah desa di lereng perbukitan, dikelilingi hutan pinus, hutan albasia dan kebun-kebun salak. Indah sekali, bukan? Foto ini saya ambil tanggal 17 Agustus yang lalu seusai upacara bendera. Masyarakat di sekitar sangat ramah, satu ciri masyarakat pedesaan. Inilah salah satunya yang membuat saya makin hari makin betah ditugaskan di sini. Tapi yang terasa agak 'aneh', saya sulit membedakan, mana mereka yang tergolong mampu (baca; kaya) atau tidak. Sebab secara penampilan, mereka hampir sama. Sama-sama (maaf) lusuh dan lecek... Tapi mereka hidup saling hormat menghormati dan rasa gotong royong nya masih sangat kental. Di atas itu semua, ada satu hal yang amat membuat saya prihatin adalah tentang tingkat kesadaran masyarakatnya untuk bersekolah yang masih sangat rendah. Rata-rata dari mereka adalah lulusan Sekolah Dasar (SD)atau Sekolah Menengah Pertama (SMP). Banyak dari mereka yang notabene secara finansial tergolong mampu (indikatornya: punya ternak, tanah yang luas atau rumah yang sudah bertembok), tapi lebih memilih tidak melanjutkan sekolah, dengan alasan yang beragam. Lebih memilih bekerja saja lah, malas berpikir lah (yang ini alasan yang amat menyedihkan, tapi sungguh-sungguh ada), rumahnya jauhlah.. Macam-macam.. Kebanyakan dari mereka, yang perempuan memilih kerja di Jakarta atau bahkan luar negri. Atau menikah. Sementara yang laki-laki, enjoy atau menikmati menjadi tukang ojek, mereka bangga kalo sudah berhasil mempunyai sepeda motor. Meski tak sedikit dari mereka yang melakukan 'pemaksaan' terhadap ortu untuk dibelikan sepeda motor. Bahkan ada cerita seorang anak yang mengancam tak mau sekolah karena orang tuanya tak membelikan motor. Sampai kemudian orang tuanya harus rela menjual tanah demi hasrat sang anak memiliki sepeda motor. Ujung-ujungnya, si anak keluar tak bersekolah lagi.
Atau banyak juga yang jadi sopir angkot, kernet atau kondekturnya. Ada juga yang jadi buruh di kebun salak. Atau merentau ke Kalimantan, jadi buruh di perkebunan kelapa sawit. Dan mereka enjoy dengan keadaan mereka. Tak menyesal karena tak melanjutkan sekolah. Bahkan tak lulus ujian adalah hal yang biasa.. Menyedihkan.. Inilah sebuah pekerjaan rumah yang amat berat bagi kami yang berkecimpung di dunia pendidikan. Bagaimana mengubah paradigma mereka yang salah. Bahwa pendidikan adalah sebuah investasi besar untuk masa depan kita yang lebih baik. Pendidikan adalah kebutuhan untuk kita menjadi pintar dan tak dipandang sebelah mata oleh orang lain..

Jumat, 14 Agustus 2009

Gantengnya Pak Kapolres



Seperti ketika mengidolakan mantan Kapuspen ABRI era 90an Syafrie Samsudin, saat ini saya tengah mengidolakan satu sosok yang menjabat sebagai Kapolres Banjarnegara. Jika Anda penggemar sinetron era 90an tentu tak asing dengan wajah ganteng yang satu ini. Ya beliaulah Nelson Purba yang dulu pernah membintangi sinetron Saat Memberi Saat Menerima bersama Krisdayanti dan Angel Ibrahim yang kini menjadi istrinya. Awalnya saat suami saya keranjingan bermain futsal (dengan tim PWI nya yang selalu kalah) dan berlatih bersama dengan tim Muspida. Pandangan saya mengarah pada sosok tegap yang ganteng dan mirip bintang sinetron. Saat itulah ayah mengatakan kalo beliau itu Kapolres yang baru. Spontan saya teriak, Ooo...itu pak Nelson yang dulu pernah main sinetron. Wow, sekarang jadi Kapolres di Banjarnegara dan betapa dekatnya. Hehehe...suami saya bilang, saya norak banget. Biarin. Saya sampai merayu suami saya, untuk mengijinkan saya bikin SIM A secepatnya. Yah...biar dapat tanda tangan pak Nelson, gitu. Norak banget! (Dan teman-teman se kantor saya juga bilang kalo saya norak banget, kaya ABG yang nge fans sama anak band aja...)

Kamis, 13 Agustus 2009

Mbah Gino


Lelaki ini bernama mbah Gino. Penjual gerabah keliling yang hampir tiap pagi saya jumpai setiap berangkat kerja. Garis wajah yang keras, kulit yang legam dan keriput di sana-sini menandakan semangat yang tak lekang tergerus usia. Saya menaksir usia beliau 80an tahun. Beliau lah 'mentor' bagi semangat saya yang tiba-tiba mengendur, saat hari masih pagi dan anak-anak belum bangun, saya sudah harus meninggalkan mereka. Aduh, suatu hal yang berat banget (dan suatu saat saya pengen banget nulis buku tentang perempuan-perempuan yang bekerja lengkap dengan dilema nya). Atau ketika saya mengeluh pada suami, betapa lelahnya saya memikul dua beban sekaligus, yakni sebagai ibu rumah tangga dan perempuan bekerja. Atau ketika saya mengeluh ingin cepat-cepat mutasi ke tempat yang lebih dekat. Mbah Ginolah yang tiba-tiba bisa membuat saya malu karena semangat bekerja nya yang luar biasa meski usia sudah renta. hampir tiap pagi beliau memikul sendiri gerabah dagangannya dan tak jarang saat siang kami bertemu saat sama-sama pulang naik mikrobus, dagangan beliau tak berkurang satu pun. tak tampak guratan sesal atau kecewa apalagi mengeluh. Paling-paling beliau berseloroh, masih disuruh bersabar. Ah, mbah Gino... mbah Gino, jika orang sesepuh mbah saja masih punya semangat yang tinggi, tak beralasan rasanya jika sbagai orang yang jauh lebih muda, saya bermalas-malasan dan gampang mengeluh dan berputus asa. Semoga Allah senantiasa memberi kesehatan pada mbah Gino. Amin...