Minggu, 24 Mei 2009

Cerita Saat Adek Lahir..




Sebelumnya mau ngucapin Happy Bday kakak Sheva yang kemarin ultah ke 5 lho.. Bukannya lupa, tp pas mau update..keburu low batre laptopnya. Ga papa lah... yang penting doa ayah dan ibu selalu menyertai Sheva. Semoga jadi anak yang sholeh, pinter, sehat dan selalu nurut sama ayah ibu... Amin.
Nah, sekarang saya ingin berbagi cerita tentang proses kelahiran adek Afifah (ayah lebih seneng panggil Fifa, katanya biar bau-bau bola dikit...hehehehe..). Dokter emang udah memperkirakan kalo adek bakal lahir tgl 18 April. Tp ngga tau kenapa, saya ngeyel kalo anak saya ini bakal lahir tanggal 17 nya. Soalnya, angka 17 kan angka favorit ayah. Udah gitu, harinya hari bagus: Jumat. Tp ternyata ditunggu tgl 17 ngga ada tanda-tanda saya mau melahirkan. Justru paginya menjelang subuh, perut saya mulai terasa mulas. Meski jaraknya paling masih satu jam sekali. Niat banget pengen lahiran normal dan cepet (ngga kayak persalinan pertama dulu) pagi itu juga saya bawa jalan-jalan keliling alun-alun kota sampai tiga putaran. Pulangnya sampe rumah langsung ngepel lantai. Bener aja, mulesnya tambah kenceng. Jam 8 pagi diperiksa bidan baru bukaan 1. Ayah sempat cemas, soale hari itu pas bgt sama rekapitulasi penghitungan suara pileg di KPUD. Jam 10 baru keluar flek dan baru ngeh kalo emang perkiraan dokter bener. Jam 5 sore, karena mulesnya udah 5 jam sekali, sya telpon ayah yang lag liputan di KPUD. Nyampe di bidan, diperiksa baru bukaan 2. Duh...lama bener. Pdhl sakitnya dah minta ampun. Tp sih sama bidannya udah ngga boleh pulang. Soale diperkirakan 2-3 jam lagi si adek bakal lahir. Bener aja, jam 11 malem ketuban pecah, sepuluh menit kemudian adek Afifah lahir dengan berat 3 kg dan panjang 49cm. Sehat dan cantik. Alhamdulillah...ketakutan bakal melahirkan lama seperti persalinan pertama sirna sudah.. Sekarang adek dah tambah berat badan. dalam kurun 3 minggu, berat badannya dah naik jadi 4kg. Mudah-mudahan.. Allah SWT selalu memberi kesehatan pada kedua anak saya. Amin...

Sabtu, 23 Mei 2009

Wanita Lembut yang Terjaga



Alhamdulillah.. telah lahir anggota baru yang melengkapi keluarga kecil kami. Pada tanggal 18 April 2009 menjelang tengah malam, putri kecil kami lahir. Sebuah nama indah telah kami persiapkan. Afifah Anis Chafidhoh. Semoga kelak, dengan kelembutannya dia mampu menjaga kehormatannya. Amin...

Selasa, 24 Maret 2009

Cowok atau cewek sama saja, Sayang..

Hasil USG dua minggu lalu, katanya sih..anak kedua saya InsyaAllah akan berjenis kelamin perempuan. Sedikit ada guratan kekecewaan di raut muka Sheva dan suami saya, sebab mereka berdua begitu mendambakan bayi laki-laki. Tapi lama-kelamaan, mereka sadar juga, apapun anugrah yang diberikan oleh Allah SWT adalah anugrah yang harus kami jaga bersama. So, cowok atau cewek kan sama aja, Sayang.. Yang penting sehat, selamat dan sempurna, Amin...

Minggu, 08 Februari 2009

Terlalu Lama Ditinggal

Saya memang keterlaluan. Punya 'rumah', ngga pernah disambangi. Alasannya males... Hihihi.. selalu saja saya menggunakan alasan hamil (alhamdulillah bulan ini masuk 7 bln) sebagai alibi untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan ringan (tapi rumit) apalagi yang berat. MasyaAllah...ternyata menjadi seorang ibu memang luar biasa berat. Apalagi jika sedang hamil begini. Perut yang semakin membesar dan cenderung menghambat aktifitas. Belum lagi badan yang gampang lelah. Nafsu makan yang ga karu-karuan. Tidur terlentang tak nyaman, punggung sakit...Duh...pantas saja jika surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.
Anyway..beberapa kejadian terjadi beberapa bulan terakhir dan tak sempat terekam dalam tulisan, sebenarnya pengen banget saya ceritakan. Dari mulai rencana kepindahan ayah ke MetroTV, saya yang tiba-tiba jadi the most pemalas sedunia dalam hal bersih-bersih rumah, saya yang tiba-tiba senang menyulam, tapi yang paling amazing adalah...impian kami untuk punya rumah akan segera terwujud!!! Alhamdulillah.. SP3K dari BTN udah terbit dan InsyaAllah mulai besok pagi rumah impian kami yang mungil itu akan dibangun.. Dan mudah-mudahan pertengahan tahun ini bisa ditempati.
Tapi yang tak kalah amazing is.. dua hari yang lalu ayah mendapat undangan dari teman lama kami (waktu sama-sama aktif di pers kampus) untuk acara launching buku terbarunya yang berjudul Galaksai Kinanthi. Namanya Tasaro GK. Tapi, kami biasa memanggilnya Obet. Luar biasa dan nggak nyangka, kalo ternyata si Tasaro GK itu adalah Obet teman lama kami. Ada getar bangga punya teman seorang penulis terkenal. Seenggak-enggaknya bisa sedikit gaya di depan teman-teman saya, eh.. si Tasaro GK yang penulis terkenal itu, temenku lho... hehehe..
Selamat ya Bet.. bagaimanapun 'pertemuan'(kembali) denganmu membuat aku seperti membuka sebuah kardus usang yang lama tersimpan di gudang yang sudah berdebu. Di dalamnya berisi sebuah idealisme dan cita-cita lama untuk menjadi penulis seperti kamu. Ah, betapa saya kini terlanjur terjebak sebagai ibu rumah tangga, yang nyambi jadi PNS, tapi masih sempat punya cita-cita jadi pengusaha garmen, hahaha... Sekali lagi selamat ya Bet.. Sori..buku yang dulu pernak kamu kasih itu....hilang...

Senin, 29 September 2008

Mudik Yuuuk......



Mudik kali ini, bagi saya agak sedikit 'memprihatinkan'. Yah, karena biasanya kami agak leluasa dan nyantai mudik menggunakan kendaraan roda empat, tapi tahun ini, karena satu dan banyak hal, kami mudik menggunakan kendaraan roda dua. Sebenarnya bukan kali ini saja kami pulang ke Cirebon naik motor. Yang memberatkan kali ini adalah, kondisi saya yang sedang hamil muda, belum lagi ayah sedang puasa, udara yang panas dan yang jelas, jalanan yang lebih macet di banding mudik tahun lalu. Sejauh pengamatan saya, ada beberapa jalur yang ditutup dan dialihkan ke jalur alternatif. Makanya, jalur alternatif terasa padat dan panas akibat beberapa pekerjaan perbaikan jalan yang belum kelar (bagaimana ini...?). Tapi alhamdulillah.. dengan terbata-bata alias dikit-dikit memutuskan istirahat, sampai juga kami di kampung kelahiran ayah. Rencana kami akan berlebaran di sini. Happy Lebaran ya...? Bagi yang mudik, tetap tertib di jalan agar selamat sampai tujuan.......

Rabu, 24 September 2008

Alhamdulillah...

Begitulah komentar ayah siang itu, ketika saya mengabarkan padanya (lewat sms, karena waktu itu ayah lagi di Jogja) bahwa saya hamil! Terlebih si sulung Sheva. Dia begitu bersemangat dan antusias menerima kabar bahwa sebentar lagi InsyaAllah dia akan memiliki seorang adik. Dan, begitulah hari-hari berikutnya kami lewati, membiasakan memanggil Sheva dengan panggilan Kakak, atau Aa atau Mas, mengajari Sheva untuk mulai berbagi kasih sayang dengan adiknya, membiasakan diri tiap pagi mendengar saya yang muntah-muntah di kamar mandi, atau..membiasakan diri mendengar saya yang tiba-tiba melontarkan keinginan aneh. That's why, saya berasa lamaaa.. sekali tidak mengunjungi 'rumah' saya sendiri. Perubahan hormon dalam diri saya, benar-benar telah membuat saya terheran-heran dengan diri sendiri. Tiba-tiba tidak tahan dengan bau-bauan aneh, tiba-tiba tidak doyan makan (makanya berat badan saya sampai turun 4 kg), tiba-tiba gampang marah, jadi pemalas (terutama malas mandi dan dandan). Ah...inilah kodrat wanita. Tak terbayangkan sebentar lagi akan memiliki bayi lagi, repot lagi dan mungkin kurus lagi.... Alhamdulillah.. ya Allah.. jagalah apa yang ada dalam perutku. Berilah dia kesehatan, kesempurnaan mental dan jasmani, wajah yang elok, hati yang lembut, otak yang cerdas, sifat yang sholeh dan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Amin...

Jumat, 18 Juli 2008

Dia Sudah Besar...?



Sheva mulai belajar banyak hal. Dia selalu merasa dirinya sudah besar. Apa-apa ingin dia lakukan sendiri. Bahkan tak mau dibantu siapapun. Tak jarang, saya dan ayahnnya dibuat kagum, haru, geli dan pasti bahagia dengan tingkahnya. Seperti ketika suatu malam, Sheva hendak mematikan lampu kamar yang tak terjangkau olehnya. Dia merasa bisa melakukannya sendiri. Saya sempat ragu. Tapi kecerdasannya, memupuskan keraguan itu. Tanpa disadarinya bahwa kami sedang memperhatikannya, diambilnya beberapa bantal untuk ditumpuk dan dijadikannya pijakan agar dia menjangkau saklar listrik. Luar biasa. Sebuah ide sederhana yang belum tentu terpikirkan oleh anak seusianya. Bagi orang dewasa, mungkin apa yang dilakukan Sheva adalah hal yang jamak. Tapi untuk anak seumuran Sheva, dan bagi kami, tentunya ini kemajuan kecerdasan yang layak membuat kami kagum dan terharu. Atau di suatu kesempatan yang lain, saat Sheva mendapati saya yang tengah murung dan merenung, dia bertanya apa yang sedang saya pikirkan. Saya bilang, bahwa saya sedang sedih karena tidak punya uang (Saya khilaf, dan tak seharusnya saya mengatakan hal itu padanya). Ternyata kata-kata yanng meluncur dari mulut Sheva, sungguh di luar dugaan saya: "Makanya... ibu kerja yang bener biar dapat duit..." Subhanallah.. Dan yang tengah membuat saya dan suami saya bangga adalah Sheva sudah berani tidur terpisah kamar dengan kami. Sekaligus Sheva belajar konsekuen dengan permintaannya, yaitu sebuah sprigbed susun (walau untuk mendapatkannya kami harus mencicil 10x, Hehehe...). Meskipun beberapa sikap dan perkataanya kadang membuat kami jengkel dan terasa menyebalkan, toh kami tetap bersyukur atas anugrah dari Allah yang tak ternilai ini. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kami agar selalu menjaga amanah-Nya ini dengan baik.... Amin.